Archives

gravatar

Memperkuat Sinyal 3G menggunakan Sendok


Saya termasuk pengguna modem GSM 3G yang awalnya putus asa dengan koneksi internet. Sebabnya, sinyal yang didapat di rumah saya hanya GPRS. Padahal modem tersebut dan operatornya menyediakan koneksi HSDPA yang kecepatannya dua tingkat di atas GPRS.Setelah cukup lama merana cinta HSDPA n’ setelah saya browsing dan terus browsing, mencari dan terus mencari, saya menemukan sangat banyak banyak,.. antena untuk penguat sinyal modem, semua nya emang sangat bagus2, tapi menurut saya harga nya masih terlalu mahal buat anak koz seperti saya ni,  setelah saya
pikir2, & karna mgkin, hanya bisa mikir mlihat harga2 antena yg cukup mahal,  akhirnya saya mencoba2 untuk membuat antena sendiri, dan akhirnya saya menemukan antena yang tepat untuk meninggikan sinyal 3G dengan harga yang sangat terjangkau, yaitu antena yang terbuat dari sendok.
bahan Sendok RCS
  • Sendok Tipis
  • Kabel UsB ( untuk lebih hemat lagi, modem langsung di hubungkan ke UsB yg di komp juga bisa, tanpa memakai kabel UsB) ^.^
  • gabus (g’ perlu klo modem lngsung di colok ke komp)


membuatnya pun sangat mudah dan hanya membutuhkan 3 bahan untuk hasil yg maksimal, sendok, gabus dan kabel UsB.
cara pertama, bentuk  pegangan sendok, sesuai dengan ukuran modem, dan setelah sendok di bentuk sesuai dengan bentuk/sesuai dengan ukuran modem,  lang kah berikutnya adalah memasang sendok ke Modem dan stlah d pasang, kabel UsB yg pada modem di hububgkan ke komputer. hasil akhirnya bisa di lihat pada gambar paling atas.

Selamat mencoba,…. ^.^


Baca selengkapnya Bagikan
gravatar

3 Kisah Adanya Kota Ajaib Uwentira di Palu

Cerita mengenai keberadaa komunitas "jin" Uwentira beredar cukup santer di kalangan masyarakat Palu. Mendengar kata Uwentira atau Wentira, mereka merujuk pada cerita, kisah maupun mitos soal keberadaan komunitas yang tak kasat mata ini. Hanya sedikit orang yang bisa melihatnya bahkan bisa berkomunikasi dengan warga Uwentira yang sering muncul bahkan di pasar-pasar di Palu dan sekitarnya. Kawasan Wentira ini oleh kalangan paranormal di Indonesia, memang dikenal sebagai salah satu wilayah paling angker di seluruh pelosok nusantara
Demi menjawab rasa penasaran banyak pengunjung, saya ingin membagikan cerita 3 teman saya berikut ini. Kebetulan mereka saya kenal karena bertemu langsung.

1. Cerita Sulwan Dase

To Wentira (ditulis Uwentira), demikian masyarakat Palu menyebut komunitas ini. Terletak disebuah kawasan yang bernama Wentira. Orang Toraja kuno menyebutnya To Wae Ntira. Menurut beberapa kawan menceritakan pengalaman mereka saat bertemu dgn orang2 To Wentira. Katanya, kita seolah-olah terombang-ambing diantara dunia nyata dan dunia maya, rasionalitas, dan supranatural. Bingung bercampur takjub. Antara percaya dan tidak percaya.

Menurut mereka yang pernah ke "Kota Wentira", kota itu sangat modern, dgn peradabana yang sangat luar biasa. Semua jenis kendaraan ada disana (termasuk MRT). Masyarakatnya makmur dan serba berada. Yang menjadi persoalan adalah, pintu masuk ke kota tsb. Hampir tak satu orang pun bisa menjelaskn secara pasti lokasi jalan masuk. beberapa menjelaskna bhw pintu masuk dgn kendaraan roda dua dan mobil adalah melalui sebuah jembatan beratap. Jembatan ini sebenarnya menjembatani sebuah sungai yg membentang. Secara logika, bila kita masuk ke ujung satu pastilah bisa tiba di ujung satunya. Namun keanehan terjadi. Kadang2 ketika sebuah mobil memasuki ujung jembatan, mobil itu tdk pernah lagi keluar di ujung satunya. Beberapa hari kemudian, barlah pengendara mobil itu bercerita bhw mereka baru saja pulang dari Kota Wentira, di mana segala sesuatunya ada disana.

Wow...persoalannya, di bagian mana dari jembatan itu yg menjadi pintu masuknya? Sebab mobil tsb ketika memasuki jembatan, menghilang begitu saja dari pandangan mata....Sewaktu saya bertanya kepada beberap kawan yg pernah kesana, mengatakan, tempat itu sangat luar biasa. Namun tdk ada lagi yg berani kesana...

2. Cerita LES Kala't
iku
Saya ingat suatu kejadian aneh yang saya dengar dari bapak saya sendiri. Waktu itu Bapak mempunyai proyek di daerah lokasi wentira. niatnya sih jalan2 di jembatan itu tapi pas memasuki mulut jembatan menurut teman proyeknya mobil truk yang pakai teman saya dan supirnya tiba2 hilang seakan2 di telan oleh jembatan itu. terus terang ini tidak masuk di akal tapi kenyataan terjadi. tapi sayang teman kantor sya ini tidak mau menceritakannya pak jadi jujur saya juga jadi penasaran dengan cerita teman saya yang katanya kota itu luar biasa modern. yah antara kenyataan dan fiksi....jadi bingung

3. Kesaksian PS Patandung
To wentira menurut orang Kaili (Suku asli di Sulteng) ada di sekitar kebun kopi ( Jl poros tawaeli - Toboli ) di jalan poros tersebut ada satu jembatan yang masih ada sampai sekarang. Konon katanya, masih buatan Belanda. Di sampingnya ada satu jembatan jembatan beton yang digunakan konon tahun 1980-an setiap kendaraan yg lewat wajib memberi kode lampu atau setidaknya klakson sebagai tanda permisi mau lewat.

Saya sudah beberapa kali melewati kawasan Kebun Kopi yang disebut-sebut dua teman terakhir ini. Kawasan ini dikenal cukup berat, menanjak dengan kemiringan tajam. Belum lagi sering terjadi longsong. Jembatan itu masih ada, dan bahkan sekarang ada sebuah tugu berwarna kuning bertuliskan NGAPA UWENTIRA. Ngapa dalam bahasa Kaili berarti Kampung,Negeri atau Kota. Uwentira berarti tidak kasat mata. Jadi NGAPA UWENTIA berarti Kota UWENTIRA.
Bagaimana ciri-ciri fisik warga Uwentira, apakah bedanya dengan manusia seperti kita? Nantikan kisah berikutnya.

Related Post

Baca selengkapnya Bagikan
gravatar

Tadulako Bulili, Tradisi Lisan, Kelisanan Kita

Saya cuma dapat 4 cerita rakyat yang asalnya dari Sulawesi Tengah. 3 dari rak buku di perpustakaan kecil saya, satunya dari berselancar di dunia maya.
Yang pertama judulnya Cerita Rakyat Sulawesi, ditulis Tuti A. Windri dan Wahyu Untara, diterbitkan oleh Penerbit Sinar Cemerlang Abadi pada tahun 2007 di Jakarta. Lima dari cerita dalam buku itu yang khas mendekati Sulawesi Tengah adalah cerita dengan judul Tadulako Bulili. Lalu yang agak lebih khusus, buku terbitan Grasindo, Jakarta (1996) yang berjudul Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah, ditulis oleh Muhamad Jaruki dan Atisah. Cerita dengan judul sama, Tadulako Bulili, saya jumpai lagi di buku ini bersama 8 cerita lainnya: Pue Njidi, Legenda Batu Bagga, Tobata, Tau Niulaya Nu Bau, dan cerita-cerita lainnya.
Ketiga, buku kompilasi terbitan Indonesia Tera (Yogyakarta, 2007) dengan judul Cerita Rakyat 33 Provinsi dari Aceh sampai Papua. Dari Sulawesi Tengah oleh Dea Rosa yang menjadi editor buku itu, di pilih cerita dengan judul Tadulako Bulili (halaman 141).
Ketika berburu cerita rakyat Sulawesi Tengah dari internet pun rekomendasi Google mengarah pada cerita dengan judul yang masih sama, Tadulako Bulili (Website Cerita Rakyat Nusantara).
Apa pesan dari situasi yang tanpa sengaja (serendipity) ini? Beberapa bisa saya jawab. Salah satunya adalah buku-buku itu dikemas enteng untuk konsumsi anak-anak karena di buat dengan pendekatan komikal khas bacaan anak-anak. Dapatlah kita berpikir positif upaya itu sebagai bagian membangun kepekaan literasi di usia dini. Yang agak mencolok adalah tampilnya topik utama dari buku-buku dan web itu, cerita Tadulako (Panglima perang) Bulili, serupa knights dalam terminologi barat, 3 pria gagah, Makeku, Molove, Bantaili, dan konflik 2 lokus cerita dari lembah Palu, wilayah Bulili dan Sigi.
Selanjutnya apakah kemudian cerita Tadulako Bulili ini bisa disebut sebagai brand folklore khas Sulawesi Tengah, lembah Palu, Suku Kaili? Artinya punya posisi yang sama representatifnya dengan misalnya ketika kita menyebut Jawa Barat lalu sontak kemudian ada Sangkuriang atau ketika Betawi ada Pitung. Saya ragu. Saya tidak mengalami ini sebagai sebuah memori masa kecil. Pun buat anak-anak sekarang, yang saya juga tidak begitu yakin mereka tahu dan suka. Mudah-mudahan kita sama paham tentang petuah logis nan bijak tak kenal maka tak sayang.
Tentang Tadulako Bulili diajukan dan disepakati sebagai brand cerita rakyat Sulawesi Tengah tentu saja bisa dilakukan. 3 buku diatas itu rasanya tidak secara langsung bertemu dan menyepakati. Masalahnya, apakah di khalayaknya sebuah cerita diterima sebagai konsensus bersama?
Cerita rakyat (folklore) sejauh yang saya tahu adalah semacam konsensus, wacana tidak tertulis yang hadir dalam memori penuturnya, disepakati turun temurun sebagai spirit komunitas dan seringkali diyakini sebagai tradisi. Wikipedia mendefinisikannya sebagai pesan atau kesaksian yang disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya yang disampaikan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasehat, balada, atau lagu
Beda dengan tetangganya di Selatan yang punya aksara Lontara, tradisi di Sulawesi Tengah diekspresikan dengan cara yang sama dengan sebagian besar kebudayaan di nusantara, lisan. Termasuk pada kreasi-kreasi seninya seperti sastra. Dan pada sastra dapatlah kita ajukan sebuah jenis sastra di lembah Palu yang diekspresikan secara lisan. Dikenal sebagai Dadendate (Amin Abdullah, 1999), nyanyian bercerita Kaili Kori yang dibawakan dengan cara bernyanyi, diiringi Kecapi dan Mbasi-mbasi.
Seorang kawan yang sastrawan pernah memberi saya sinyalemen tentang kenapa sastra belum begitu mengakar pada kita di Palu. Beberapa diantaranya adalah karena komitmen media lokal kita untuk memberi ruang baginya –sastra, yang kemudian berlanjut pada masalah turunannya: tidak adanya kritik(us) sastra, jarangnya penerbitan buku-buku sastra. Saya ingin menambahkan, senjakalanya kita pada budaya menerima sastra tidak saja sebagai bacaan, tapi juga spirit lokal dan jaman.
Saya membayangkan sebuah masa entah kapan ketika generasi selanjutnya benar-benar putus hubungan dengan tradisi. Para maestro kesenian yang seringkali hidup jauh dari hibuk polemik urban sudah tua dan bisa dihitung jari. Beberapa malah telah pergi meninggalkan dunia dan kekhawatiran tanpa warisan penerus.
Harapan saya adalah angka yang terlalu kecil diparagraf awal tulisan itu bukan realitas yang sesungguhnya. Mungkin masih ada buku dan literatur lain yang masih tersimpan di rak-rak buku perpustakaan milik daerah atau lembaga pendidikan macam kampus yang dibiayai negara. Harapan yang juga muncul bagi para insan pemerhati buku dan literatur.
Akhirnya, agar saya tidak terlalu tenggelam dalam kelisanan (scripta manen verba volent, tulisan abadi, lisan dibawa angin) saya akhiri saja tulisan refleksi ini dengan ucapan selamat tahun baru 2011!
(tulisan dimuat harian Radar Sulteng pada 4 Januari 2010)
Baca selengkapnya Bagikan
gravatar

Mengenal Lebih dekat Suku Kaili

Suku Kaili merupakan suku bangsa yang tinggal di wilayah Sulawesi Tengah. Khususnya di Kabupaten Donggala, Sigi, dan Kota Palu. Selain itu, daerah Parigi-Moutong dan Kabupaten Poso pun tak luput menjadi daerah penyebarannya suku tersebut.

Ada sejumlah versi mengenai asal-usul nama “Kaili” ini. Secara kebahasaan, kata kaili berasal dari nama pohon. Kaili tumbuh subur di daerah tepi sungai Palu dan Teluk Palu. Berdasarkan cerita daerah setempat, di dekat Kampung Bangga tumbuhlah menjulang pohon kaili yang sering dijadikan sebagai panduan bagi para pelaut dalam menentukan arah menunju pelabuhan Banggai.

Bahasa Suku
Lazimnya sebuah suku memiliki bahasa daerah. Demikian pula dengan suku Kaili yang memiliki bahasa sendiri yang digunakan dalam percakapan sehari-harinya. Mereka menyebutnya dengan bahasa “Ledo” yang artinya “tidak”.
Walau sesungguhnya dintara suku-suku Kaili juga banyak terdapat bahasa lainnya yang digunakan antarkampung. Namun Ledo menjdi “bahasa persatuan” masyarakat Kaili. Bagi Anda yang berkunjung menemui suku ini masih bisa menemukan bahasa asli Ledo (yang masih belum terkontaminasi dengan bahasa asing) di sekitar Tompu dan Raranggonau.

Sementara di daerah-daerah seperti Biromaru atau Palu bahasa Ledo yang menjadi bahasa pemersatu suku Kaili sudah tak asli lagi karena sudah banyak dipengaruhi dan terkontaminasi oleh bahasa Bugis atau bahasa Melayu.

Aspek Kebudayaan
Peninggalan kebudayaan yang merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur suku Kaili masih dilestarikan hingga kini. Terutama di saat-saat perayaan hari besar seperti: pernikahan, dan sebagainya. Hukum adat dan budaya begitu dijunjung tinggi dan dipertahankan dari pengaruh budaya luar.

Beberapa diantara penyelenggaraan upacara kebudayaan biasanya dilakukan di saat pesta perkawinan (No Rano, No Raego), upacara panen raya (No Vunja), upacara orang meninggal (No Vaino), atau upacara penyembuhan penyakit. Pengaruh nilai-nilai adat budaya Kaili dalam setiap perayaan tersebut masih kental unsur animisme.

Adapun instrumen musik yang menjadi kebanggaan suku Kaili ini antara lain  Lalove, Nggeso-nggeso, Kakula, dsb. Salah satu kebiasaan wanita suku Kaili yakni menenun sarung.
Sarung-sarung hasil tenunan tersebut dalam bahasa Kaili lebih dikenal dengan sebutan Buya Sabe. Masyarakat umum mengenalnya sebagai sarung Donggala. Buya Sabe inipun mempunyai beberapa nama lagi, seperti Subi, Kumbaja, dan Bomba.

Aspek Kepercayaan
Sebagaimana suku tua yang banyak menganut aliran kepercayaan terhadap benda-benda seperti batu dan pohon besar, tak beda jauh dengan suku Kaili yang dulunya banyak masyarakatnya menganut animisme. Diantara dewa-dewa yang banyak dipercaya sebagai tuhan mereka adalah: Tomanuru (sang pencipta), Buriro (yang menyuburkan tanah), Tampilangi (dewa yang bertugas menyembuhkan penyakit), dsb.
Namun setelah agama Islam masuk, aliran-aliran tersebut secara perlahan banyak ditingalkan oleh warga setempat. Abdul Raqi, seorang ulama Islam keturunan Raja dari Minangkabau yang beperan sangat besar dalam menyebarkian Islam di suku Kaili.

Sementara yang patut kita tiru dari kebiasaan suku Kaili yakni hubungan kekerabatannya yang sangat kuat, terutama sekali terlihat ketika dalam upacara-upacara besar seperti keagamaan, kematian, dan pernikahan.
Baca selengkapnya Bagikan
gravatar

12 Shortcut Windows Logo untuk Percepat Akses Menu

Dengan bantuan shortcut "Windows Logo Key" yang ada di keyboard, Anda bisa mengakses control panel ataupun menu-menu yang tersedia di Windows dengan lebih cepat. Pekerjaan Anda pun bisa dengan cepat diselesaikan tanpa perlu sibuk mencari-cari lokasi menu yang Anda ingin buka.

Tombol "Windows Logo Key" berada diantara tombol Ctrl dan Alt sebelah kiri keyboard). Hampir semua merek keyboard memiliki tombol ini.

Berikut ini adalah list shortcut yang menggunakan tombol "Windows Logo Key", yang sering digunakan untuk membantu Anda mempercepat menyelesaikan pekerjaan. Perlu diingat bahwa shortcut tersebut hanya bekerja di komputer yang menggunakan sistem operasi Windows.

Windows: untuk menampilkan Start menu.

Windows Logo + D: untuk menampilkan desktop, meminimasi aplikasi windows yang terbuka atau mengembalikan (restore) semua aplikasi windows yang terbuka.

Windows Logo + E: untuk membuka Windows Explorer.

Windows Logo + F: untuk menampilkan menu pencarian file (Search Results).

Windows Logo + Ctrl + F: untuk menampilkan menu pencarian "Search Results - Computer".

Windows Logo + F1: untuk membuka menu "Help and Support Center".

Windows Logo + R: untuk membuka kotak dialog "Run".

Windows Logo + break: untuk membuka kotak dialog "System Properties".

Windows Logo + M: untuk meminimasi semua aplikasi windows yang sedang dibuka atau dengan kata lain kembali ke desktop.

Windows Logo + shift + M: kebalikan dari Windows Logo + M, yakni untuk meng-undo semua windows yang diminimasi.

Windows Logo + L: untuk mengunci workstation

Windows Logo + U: untuk membuka menu "Utility Manager".
Baca selengkapnya Bagikan
gravatar

Analogi Kepercayaan yang berubah menjadi Keyakinan

Saya seringkali melihat orang disekitar saya memahami Agama hanya sebagai ritual, trend, atau bawa’an sejak lahir yang di titah-kan kepada dirinya tanpa adanya keinginan sendiri untuk mengeksplorasi kebenarannya dan beberapa orang berpendapat “semua Agama sama, mengajarkan kebaikan”.
Banyak juga yang menganggap Agama hanya bullshit, sebab tidak bisa dibuktikan secara Ilmiah, misalnya kehidupan setelah mati, mau bagaimana membuktikannya ?, mati dulu ?

pertanyaannya kemudian ya... bagimana ????

Nah…….., saya punya contoh lucu analogi yang mirip dengan hal ini.
Memandang hal ini mirip seperti Pria yang memilih calon Istri untuk dinikahi. Bagaimana Si Pria tahu kalau calon Istrinya perawan ??, dicoba dulu ???, HAH !!???
pastinya TIDAK !
tapi bagamana cara mengetahuinya ?, nah…… disinilah perjalanan seorang manusia yang berawal dari sekedar “percaya” untuk berjuang menemukan “keyakinan”.
kita harus memulai dari informasi terkecil yang ada, seperti siapa orang tuanya, silsilahnya, sekolahnya, kehidupan kesehariannya, temannya, dll.
Agama juga sama seperti itu dimulai dari sejarahnya, pembawanya, konsep ajarannya, dll.
Intinya : Jalan hidup setiap manusia berawal dari “Percaya” untuk menuju “Yakin” akan tetap antara kepercayaan dan keyakinan tidak bisa disatukan menjadi satu konsep, akan tetapi bisa dibawa jalan berdampingan... contohnya seperti ini :
adat dan agama, adat adalah sebuah kepercayaan masyarakat/kebiasaan yang dibawa sejak nenek moyangnya ada.. sedangkan agama adalah sebuah keyakinan. (keperyaan=banyak, keyakinan=satu yaitu Allah). artinya adalah untuk menuju sebuah keyakinan harus dilandasi dari sebuah kepercayaan.

Ps.Anda masih ragu ?, apakah anda yakin kalau ibu anda adalah ibu yang melahirkan anda ?, mengapa anda begitu yakin sementara anda tidak pernah menyaksikan anda dilahirkan ? Pastinya anda meyakininya dari aspek informasi yang ada pada diri anda sendiri seperti dagu-nya mirip ibu, matanya mirip ayah, kulitnya sawo matang seperti ibunya, dll. Anda yakin kan ?, atau anda masih ragu ?, masih ragu dengan Agama anda ?, berjuanglah untuk Yakin, tidak hanya sekedar Percaya.
Baca selengkapnya Bagikan